Kamis, 14 Mei 2009
MAPERCA HMI KOMISARIAT PERTANIAN
Alhamdulillahhirobbilalamin puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberi rahmat serta karunianya sehingga acara MAPERCA HMI Komisariat PERTANIAN dapat terlaksana dengan lancar. Ucapan terima kasih kami sampaikan kepada segenap teman-teman lain yang telah membantu mensukseskan acara ini antara lain para pengurus HMI Cab. Surakarta dan perwakilan teman-teman dari Komisariat HUKUM, Komisariat FISIP dan Komisariat Ekonomi serta para calon-calon kader HMI yang nantinya insayaallah dapat bergabung dan berproses di HMI. Acara MAPERCA kali ini antara lain perkenalan, menonton film bareng tentang tokoh-tokoh HMI dan sharing bersama Ketua Umum Cabang HMI Surakarta. Alhamdulillah acara dapat terselenggara dengan baik meski persiapannya dalam waktu yang singkat, ini semua tidak akan terjadi tanpa bantuan dan dukungan dari teman-teman seperjuangan di HMI. Semoga apa yang telah kita lakukan bersama memberikan hasil yang terbaik untuk HMI kedepannya. Menyambut para calon kader yang nantinya akan berproses bersama kita di HMI. Bahagia HMI, YAKUSA!!!
Wassalamualaikum wr.wb
Rabu, 06 Mei 2009
Perjalanan...
Lelah terasa badan ini
Hampa terasa jiwa ini
Seolah diri ini tak sanggup lagi meneruskan
Dimanakah tempat peristirahatanku dari kelelahan ini
Segera ingin ku mencapainya
Melepaskan segala rasa lelah di diri dan penat di jiwa
Saat aku puas...puas...dan puas melepaskan semuanya
Aku dapat tersenyum lebar dan tertawa puas
Namun......
Itu hanya sementara, kurasa
Puncak perjalanan yang kutempuh pelepas segala dahaga kelelahan diri dan kepenatan jiwa sesungguhnya!!!
YAKUSA!!!
Jumat, 27 Maret 2009
Segelas Teh Pahit
Kamis, 19 Maret 2009
SOLUSI TUNTAS MASALAH PUPUK Di INDONESIA; Sebuah Partisipasi KAHMI Nasional
"Tidak hanya persoalan kelangkaan pupuk tapi lebih dari itu persoalan distribusi sampai harga yang tidak memihak kepada petani."
KAHMI Nasional, Jakarta Selatan, Kabarindo- Menyadari pentingnya posisi pupuk saat ini dan dimasa mendatang, Pusat Kajian Pertanian (PUJITANI) Majelis Nasional Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI), mengambil inisiatif untuk melakukan diskusi terbatas untuk membicarakan masalah pupuk, Kemarin Jum’at 16 Januari 2009 di Gedung KAHMI Center Jakarta. Hadir sebagai narasumber Dr. Zainal Soedjais (Ketua Dewan Pupuk Nasional), Ir. Sputnik, MM (Deptan), Darmayanto (Komisi IV DPR-RI) dan Suhanto (Ditjen Perdagangan Dalam Negeri. Dari diskusi ini muncul pemikiran yang bernas dan bermanfaat yang dapat disampaikan kepada pihak yang berwenang untuk dapat dilakukan. Diharapkan masalah pupuk ini dapat diatasi untuk paling tidak masa 20 tahun ke depan.
Sebagai input penting, maka kehadiran pupuk bagi usahatani dalam kondisi yang tepat waktu, jumlah, kualitas, dan tempat menjadi keniscayaan. Bila dimasa lalu kehadiran pupuk tidak begitu bermasalah, kini mulai bermasalah. Masalah timbul mulai dari produksinya, distribusi hingga penggunaan. Pada sisi produksi, bagaimanapun harus disadari pabrik pupuk yang ada di Indonesia sudah mulai menua dan umumnya akan bermasalah pada efisiensi produksi, bahkan ada yang sudah tidak beroperasi lagi secara penuh atau tutup (contoh pabrik pupuk Iskandar Muda). Pada sisi distribusi, sudah sering terdengar kelangkaan pupuk terjadi dimana-mana, atau pupuk bersubsidi hilang dari pasaran, atau di ekspor atau lari ke subsktor perkebunan. Seringkali terdengar distributor nakal yang gemar menumpuk pupuk untuk berspekulasi. Pada sisi penggunaan, telah ditemukan banyak sekali petani yang salah menggunakan pupuk, baik cara maupun dosisnya. Permasalahan seperti ini setelah era reformasi terus berulang dan cenderung meningkat.
Solusi yang diambil pemerintah bukannya tidak ada, namun ternyata tak mampu mengatasi masalah tersebut. Tercatat upaya membuat holding perusahaan pabrik pupuk sudah dilakukan, penentuan zona pemasaran, pelarangan ekspor pupuk, penentuan harga pupuk bersubsidi / harga eceran tertinggi, subsidi gas, peningkatan pengawasan, penyusunan kebutuhan pupuk petani / RDKK dan masih banyak hal lainnya. Namun masalah yang diuraikan di atas tetap saja berulang. Pertanyaan utamanya kemudian, adakah sesungguhnya solusi tuntas masalah pupuk atau paling tidak adakah solusi jangka pendek, menengah dan panjang tentang pupuk.
Beberapa ide dan pemikiran baru untuk mengatasi masalah pupuk diantaranya adalah : pengalihan subsidi kepada petani melalui sistem voucher / kupon, menugaskan kembali Perum Bulog atau PT. Pertani sebagai penanggungjawab distribusi pupuk, mengurangi penggunaan pupuk anorganik, beralih ke pupuk organik, menambah pabrik pupuk, mendirikan pabrik pupuk milik petani dll. Secara keseluruhan pemikiran ini perlu dikaji lebih jauh dan apakah dapat diimplementasikan untuk jangka yang cukup panjang.
Semoga Indonesia menjadi negara swasembada beras lagi dan pupuk tidak langka yah........?
Petani Jatim Mesti Gunakan Pupuk Organik
MOJOKERTO, KOMPAS.com - Para petani di Jatim ditargetkan untuk segera menggunakan pupuk organik. Gubernur Jatim Soekarwo, Kamis (19/3) menyebutkan pupuk organik harus menjadi bagian terbesar yang dipergunakan petani.
"(Nanti) hanya 35 persen bagi (penggunaan) pupuk anorganik," kata Soekarwo usai menghadiri pertemuan dengan puluhan petani di Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pengembangan Benih Padi Puspa Jabon, Kabupaten Mojokerto. Dengan demikian, konsentrasi terbesar yakni sebesar 65 persen total konsumsi pupuk petani harus berupa pupuk organik.
Ia menambahkan, fokus untuk mengg unakan pupuk organik terkait dengan buruknya kondisi tanah di sebagian besar wilayah pertanian di Provinsi Jatim. Selain itu, kembalinya petani pada penggunaan pupuk organik juga diharapkan bisa menjadikan petani lebih mendiri dari ketergantungan pada pupuk kimia produksi industri.
Nasib Petani di Negara Agraris ini
Sedikit tulisan yang tertuang pada lembar ini semoga dapat bermanfaat bagi teman - teman sekalian. Pernahkah terbersit dalam pemikiran kita, akan seperti apakah nasib para petani di negara kita 5 tahun mendatang, 2 tahun mendatang bahkan mungkin sekarang. Kesejahteraan hidup para petani saat ini sudah menunjukkan betapa tidak diperhatikannya nasib mereka apalagi beberapa tahun mendatang?
Mengapa hal ini dapat terjadi? Apa yang seharusnya dilakukan untuk mengatasi hal ini? Ya seharusnya pemerintah lebih memperhatikan nasib para petani. Namun apakah saat ini hal tersebut dapat memberikan perubahan pada kesejahteraan petani? Apakah sudah terlaksana?
Biaya produksi semakin meningkat karena pupuk mahal, pemerolehan bibit mahal dan lain sebagainya membuat para petani semakin kesulitan dalam memproduksi hasil pertanian apalagi memperoleh keuntungan dari hasil produksi. Lahan pertanian yang semakin sempit karena penggunaan lahan untuk kepentingan beberapa pihak dalam mewujudkan ambisi mereka. Di sisi lain ada keinginan mencapai swasembada pangan mengulang sejarah para pendahulu, swasembada pangan seperti apa jika kondisi pertanian di negara kita seperti ini?
Selasa, 30 Desember 2008
Petani Pejuang Pejuang Petani
Jawa Tengah, Gubernur Bibit Waluyo mengusulkan agar pemerintah
Provinsi Jawa Tengah meniadakan sistem distributor dan pengecer dalam
penyaluran pupuk bersubsidi kepada petani berdasarkan Permen
Perdagangan nomor 21 tahun 2008 tentang Pengadaan dan Penyaluran Pupuk
Bersubsidi untuk Sektor Pertanian. Pada musim tanam bulan November
2008 yang lalu, terdapat banyak masalah di berbagai wilayah. Petani
padi tidak dapat mendapatkan pupuk bersubsidi yang sangat
dibutuhkannya untuk tanaman padi.
Tercatat kasus sebuah kelompok tani di daerah Pati membabat habis
bibit tanaman padinya akibat kelangkaan pupuk. Di daerah pantura
antara lain di Demak-Kudus, dalam rangka mendapatkan pupuk bersubsidi
para petani melakukan razia dan sweeping angkutan darat bak terbuka
maupun bak tertutup yang dicurigai membawa pupuk bersubsidi. Apabila
memang mengangkut pupuk bersubsidi mereka langsung membongkar muatan
tersebut di tempat untuk dibagi antar petani. Sebagian mengganti
seharga harga eceran tertinggi, beberapa kasus dijarah seperti
perbuatan para kriminal melakukan perampokan.
Hal tersebut menunjukkan tingkat depresi yang sudah sangat akut petani
Indonesia akibat pengelolaan ngawur pemerintah terhadap pembangunan
pertanian. Sebenarnya kasus seperti ini tidak hanya terjadi di masa
tanam sekarang saja. Hampir di setiap musim tanam, masalah pupuk masih
menjadi masalah utama petani. Pupuk bersubsidi yang dikelola melalui
distributor dan pengecer selalu menjadi komoditas untuk menekan dan
menghisap petani. Penjualan pupuk bersubsidi hampir pasti dijual
"bundled" dengan obat/pupuk pertanian lain non-subsidi. Tidak semua
petani membutuhkan obat/pupuk non subsidi tersebut, tapi posisi tawar
petani yang dilemahkan oleh sistem mengharuskan petani membayar biaya
yang jauh lebih mahal untuk mendapatkan pupuk bersubsidi yang
dibutuhkan tersebut. Atau karena alasan pupuk bersubsidi yang tersedia
tidak mencukupi kebutuhan, harga eceran tertinggi dinaikkan. Beberapa
kasus oleh pemerintah, beberapa kasus secara sepihak oleh distributor
dan pengecer.
Anehnya di musim tanam akhir tahun 2008 ini, pihak pemerintah selalu
berdalih bahwa berdasarkan statistik dan laporan produksi pupuk
bersubsidi oleh PT. Pupuk Sriwijaya dan PT. Pupuk Kaltim memadai dan
cukup untuk kebutuhan petani di seluruh wilayah Indonesia. Padahal di
beberapa daerah jelas-jelas petani padi tidak bisa mendapat pupuk
bersubsidi tersebut. Tentu ini diakibatkan penyelewengan distribusi
sehingga wajar apabila Gubernur Jawa Tengah menggulirkan wacana
penghapusan sistem distribusi pupuk bersubsidi melalui distributor dan
pengecer dan mengganti langsung dengan sistem penyaluran pupuk
bersubsidi langsung kepada petani. Secara ekonomis, semakin panjang
rantai distribusi, maka semakin tinggi biaya yang harus dikeluarkan.
Dan biaya distribusi tersebut kemudian dikenakan kepada konsumen,
dalam hal ini petani.
Sayangnya wacana Gubernur tidak banyak mendapat tanggapan dari
pihak-pihak terkait. Satu-satunya tanggapan justru datang dari Ketua
Asosiasi Distributor Pupuk PT. Pupuk Sriwidjaja (PUSRI), Hilal Muharom
(Kompas, 27 Desember 2008). Tanggapan tersebut sebagaimana mudah
diduga, jelas menentang usulan Gubernur Jawa Tengah dengan alasan
pengangguran semakin bertambah karena satu perusahaan distributor
pupuk memiliki rata-rata 50 orang pekerja. Di Jawa Tengah, terdaftar
distributor resmi pupuk bersubsidi sejumlah 150 perusahaan dan 5.000
pengecer pupuk bersubsidi. Hilal Muharom menawarkan solusi untuk
melakukan distribusi pupuk bersubsidi secara tertutup dengan rencana
definitif kebutuhan kelompok (RDKK) untuk penyaluran pupuk bersubsidi
tahun 2009. Sistem ini dimaksudkan untuk memprediksi kebutuhan pupuk
bersubsidi berdasarkan kelompok tani.
Patut dipertanyakan sistem yang ditawarkan oleh Distributor tersebut,
karena jelas petani Indonesia adalah petani tradisional yang tidak
terbiasa dengan sistem perencanaan yang matang dalam melakukan proses
produksi. Belum lagi masalah distibutor nakal yang selalu muncul stiap
tahun. Petani kita masih sulit untuk diberikan pemahaman untuk
pengarapan serempak satuan lahan akibat masalah permodalan. Akibatnya
kadang kebutuhan pupuk untuk suatu areal tanam menjadi meningkat dan
mengakibatkan membengkaknya biaya produksi. Aplikasi pupuk oleh petani
kita juga sering tidak tepat dosis karena para penyuluh pertanian di
lapangan kurang berkompeten.
Tidak ada satu alasan untuk membuat kita yakin dengan sistem tersebut
masalah petani mengenai pupuk di setiap musim tanam dapat
terselesaikan. Hal ini tidak terlepas dari salah urus masalah pupuk di
Indonesia. Subsidi untuk sektor pertanian tidak pernah diberikan
langsung kepada petani. Berbeda dengan negara lain, subsidi untuk
pertanian diberikan setengah-setengah.
Kita ambil contoh subsidi untuk pupuk. Selisih harga yang disubsidi
oleh pemerintah diberikan langsung kepada pabrik pembuat pupuk dalam
hal ini PT PUSRI dan PT Pupuk Kaltim. Di Thailand, harga pupuk dijual
kepada petani dengan harga ekonomi sesuai pasar dan biaya produksi,
tapi petani diberikan kemudahan mendapatkan kredit pertanian untuk
membeli bibit, pupuk, obat, atau sarana produksi lain. Bahan bakar
minyak untuk alat mesin pertanian juga disubsidi secara global untuk
peruntukan lain. Parahnya lagi, komoditas hasil pertanian lokal tidak
pernah mendapat perlindungan yang cukup dari komoditas impor oleh
pemerintah. Akibatnya nilai komoditas petani Indonesia selalu hancur
ketika panen. Bandingkan dengan Jepang yang badan penyangga pangan-nya
mau membeli gabah petani lebih tinggi daripada harga pasar dan subsidi
baru diberikan ketika beras masuk ke pasar. Bulog kita justru membeli
gabah lebih rendah dari harga beras pasar. Akibatnya, beras impor
dapat masuk dan membanjiri pasar lokal.
Berdasarkan uraian di atas, reformasi pembangunan pertanian ssudah
mendesak untuk dilakukan dengan cara, memberikan subsidi produk
langsung kepada petani, memangkas rantai distribusi bibit, pupuk,
obat, alat mesin pertanian untuk menekan biaya produksi petani,
memperbaiki kinerja penyuluh pertanian lapangan, dan kebijakan
pemerintah yang melindungi komoditas pertanian lokal dengan semangat
memperjuangkan kepentingan petani di atas kepentingan industri.
Mampukah pemerintah kita sekarang melakukannya? Atau kita harus
mengganti pemerintah dulu agar petani dapat sejahtera? Bagaimana
menurut anda?
(Zainulgrunge – Petani Pejuang Pejuang Petani)
Jumat, 01 Februari 2008
hujatan MU !!
Saat-saat perjalan beberapa tahun keblakang, HMI seering mendapatkan hujatan-hujatan yang tak berdasar, (seperti LIBERALISME, organisasi yan mempermainkan AGAMA, bahkan ada yang mengatakan HMI adalah Tunggangannya JIL, dsb) dan saya pikir itu hujatan yang tak bermoral. karna mereka tidak bis menjelaskan arti LIBERAL itu sendiri, apakah itu ada dalam AD/ART HM? atau oknum organisasi. Ketika sebuah pergerakan lain dalam satu latar blakang yang sama-sama mengusung ISLAM atau MUSLIM di dalamnya, maka di dalam nya juga harus menuruti atau mentaati dasar agama, yakni Al-quran dan Al hadist. Saya pikir Hujatan-hujatan itu mengandung dua unsur, yakni pefitnahan organisasi dan pengGhibahan Organisasi (ternyata mereka suka makan daging saudaranya sendiri ya....).
Jika kita masukan itu (hujatan) dalam sebua kotak, dan kotak itu kita beri nama penilaian, maka timbul pertanyaan,dasar apa yang mereka gunakan. Pada umumnya orang Indonesia menilai sesuatu dari 3 hal :
1. kebodohan dan ketidak tahuannya
2. mendengar dari orang lain yang juga belum teruji kebenarannya
3. pengalaman seseorang
tapi, orang-orang Indonesia sering menggunakan no 2 sebagai dasar penilaian terhadap orang lain... inikah bangsaku yang menilai dari kata orang lain? apakah bangsaku se-BODOH ini ?
Mari kita bersama-sama maju ke garis depan demi Islam, berjihad bersama, jangan memecah kekuatan kita sendiri.......jangan melihat bendera apa yang kita bawa, tapi lihat Agama siapa yang kita bela.
ALLAHU AKBAR
SALAM HIJAU-HITAM
YAKIN USAHA SAMPAI
intelektual-salon
Diskui, rapat-rapat di dalam suatu perkumpulan, kesatuan, maupun perhimpunan adalah biasa terjadi dan memang di sana di anjurkan. Biasanya dalam proses belajar seperti ityu menghasilkan sebuah pemikiran bersama untuk kemajuan masing-masing lembaga atau organissi yang di naungi, tapi di sini terliat betapa munafiknya mereka,ketika sebuah pemikiran tidak terlaksana dalam sebuah gerakan. Pemikiran-pemikiran mereka hanya terhenti sampai impian untuk melaksanakannya.
jangan hanya menjadi Intelektual-salon, yang hanya dandan di depan cermin dan tidak melakukan apapa, yang di butuhkan bangsa ini adalah sebuah pemikiran yang kritis dan pergerakan revolusioner.
Sabtu, 01 Desember 2007
sejarah HMI
Sejarah adalah pelajaran dan pengetahuan tentang perjalanan masa lampau ummat manusia, mengenai apa yang dikerjakan, dikatakan dan dipikirkan oleh manusia pada masa lampau, untuk menjadi cerminan dan pedoman berupa pelajaran, peringatan, kebenaran bagi masa kini dan mendatang untuk mengukuhkan hati manusia.
B. Latar Belakang Sejarah Berdirinya HMI
Kalau ditinjau secara umum ada 4 (empat) permasalahan yang menjadi latar belakang sejarah berdirinya HMI.
Situasi Dunia Internasional
Berbagai argumen telah diungkapkan sebab-sebab kemunduran ummat Islam. Tetapi hanya satu hal yang mendekati kebenaran, yaitu bahwa kemunduran ummat Islam diawali dengan kemunduran berpikir, bahkan sama sekali menutup kesempatan untuk berpikir. Yang jelas ketika ummat Islam terlena dengan kebesaran dan keagungan masa lalu maka pada saat itu pula kemunduran menghinggapi kita.
Akibat dari keterbelakangan ummat Islam , maka munculah gerakan untuk menentang keterbatasan seseorang melaksanakan ajaran Islam secara benar dan utuh. Gerakan ini disebut Gerakan Pembaharuan. Gerakan Pembaharuan ini ingin mengembalikan ajaran Islam kepada ajaran yang totalitas, dimana disadari oleh kelompok ini, bahwa Islam bukan hanya terbatas kepada hal-hal yang sakral saja, melainkan juga merupakan pola kehidupan manusia secara keseluruhan. Untuk itu sasaran Gerakan Pembaharuan atau reformasi adalah ingin mengembalikan ajaran Islam kepada proporsi yang sebenarnya, yang berpedoman kepada Al Qur'an dan Hadist Rassullulah SAW.
Dengan timbulnya ide pembaharuan itu, maka Gerakan Pem-baharuan di dunia Islam bermunculan, seperti di Turki (1720), Mesir (1807). Begitu juga penganjurnya seperti Rifaah Badawi Ath Tahtawi (1801-1873), Muhammad Abduh (1849-1905), Muhammad Ibnu Abdul Wahab (Wahabisme) di Saudi Arabia (1703-1787), Sayyid Ahmad Khan di India (1817-1898), Muhammad Iqbal di Pakistan (1876-1938) dan lain-lain.
Situasi NKRI
Tahun 1596 Cornrlis de Houtman mendarat di Banten. Maka sejak itu pulalah Indonesia dijajah Belanda. Imprealisme Barat selama ± 350 tahun membawa paling tidak 3 (tiga) hal :
Penjajahan itu sendiri dengan segala bentuk implikasinya.
Missi dan Zending agama Kristiani.
Peradaban Barat dengan ciri sekulerisme dan liberalisme.
Setelah melalui perjuangan secara terus menerus dan atas rahmat Allah SWT maka pada tanggal 17 Agustus 1945, Soekarno-Hatta Sang Dwi Tunggal Proklamasi atas nama bangsa Indonesia mengumandangkan kemerdekaannya.
Kondisi Mikrobiologis Ummat Islam di Indonesia
Kondisi ummat Islam sebelum berdirinya HMI dapat dikategorikan menjadi 4 (empat) golongan, yaitu : Pertama : Sebagian besar yang melakukan ajaran Islam itu hanya sebagai kewajiban yang diadatkan seperti dalam upacara perkawinan, kematian serta kelahiran. Kedua : Golongan alim ulama dan pengikut-pengikutnya yang mengenal dan mempraktekkan ajaran Islam sesuai yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW. Ketiga : Golongan alim ulama dan pengikut-pengikutnya yang terpengaruh oleh mistikisme yang menyebabkan mereka berpendirian bahwa hidup ini adalah untuk kepentingan akhirat saja. Keempat : Golongan kecil yang mencoba menyesuaikan diri dengan kemajuan jaman, selaras dengan wujud dan hakekat agama Islam. Mereka berusaha supaya agama Islam itu benar-benar dapat dipraktekkan dalam masyarakat Indonesia.
Kondisi Perguruan Tinggi dan Dunia Kemahasiswaan
Ada dua faktor yang sangat dominan yang mewarnai Perguruan Tinggi (PT) dan dunia kemahasiswaan sebelum HMI berdiri. Pertama: sisitem yang diterapkan dalam dunia pendidikan umumnya dan PT khususnya adalah sistem pendidikan barat, yang mengarah kepada sekulerisme yang "mendangkalkan agama disetiap aspek kehidupan manusia". Kedua : adanya Perserikatan Mahasiswa Yogyakarta (PMY) dan Serikat Mahasiswa Indonesia (SMI) di Surakarta dimana kedua organisasi ini dibawah pengaruh Komunis. Bergabungnya dua faham ini (Sekuler dan Komunis), melanda dunia PT dan Kemahsiswaan, menyebabkan timbulnya "Krisis Keseimbangan" yang sangat tajam, yakni tidak adanya keselarasan antara akal dan kalbu, jasmani dan rohani, serta pemenuhan antara kebutuhan dunia dan akhirat.
Berdirinya Himpunan Mahasiswa Islam (HMI)
Latar Belakang Pemikiran
Berdirinya Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) diprakasai oleh Lafran Pane, seorang mahasiswa STI (Sekolah Tinggi Islam), kini UII (Universitas Islam Indonesia) yang masih duduk ditingkat I. Tentang sosok Lafran Pane, dapat diceritakan secara garis besarnya antara lain bahwa Pemuda Lafran Pane lahir di Sipirok-Tapanuli Selatan, Sumatera Utara. Pemuda Lafran Pane yang tumbuh dalam lingkungan nasionalis-muslim pernah menganyam pendidikan di Pesantren, Ibtidaiyah, Wusta dan sekolah Muhammadiyah.
Adapun latar belakang pemikirannya dalam pendirian HMI adalah: "Melihat dan menyadari keadaan kehidupan mahasiswa yang beragama Islam pada waktu itu, yang pada umumnya belum memahami dan mengamalkan ajaran agamanya. Keadaan yang demikian adalah akibat dari sitem pendidikan dan kondisi masyarakat pada waktu itu. Karena itu perlu dibentuk organisasi untuk merubah keadaan tersebut. Organisasi mahasiswa ini harus mempunyai kemampuan untuk mengikuti alam pikiran mahasiswa yang selalu menginginkan inovasi atau pembaharuan dalam segala bidang, termasuk pemahaman dan penghayatan ajaran agamanya, yaitu agama Islam. Tujuan tersebut tidak akan terlaksana kalau NKRI tidak merdeka, rakyatnya melarat. Maka organisasi ini harus turut mempertahankan Negara Republik Indonesia kedalam dan keluar, serta ikut memperhatikan dan mengusahakan kemakmuran rakyat.
Peristiwa Bersejarah 5 Februari 1947
Setelah beberapa kali mengadakan pertemuan yang berakhir dengan kegagalan. Lafran Pane mengadakan rapat tanpa undangan, yaitu dengan mengadakan pertemuan secara mendadak yang mempergunakan jam kuliah Tafsir. Ketika itu hari Rabu tanggal 14 Rabiul Awal 1366 H, bertepatan dengan 5 Februari 1947, disalah satu ruangan kuliah STI di Jalan Setiodiningratan (sekarang Panembahan Senopati), masuklah mahasiswa Lafran Pane yang dalam prakatanya dalam memimpin rapat antara lain mengatakan "Hari ini adalah pembentukan organisasi Mahasiswa Islam, karena persiapan yang diperlukan sudah beres. Yang mau menerima HMI sajalah yang diajak untuk mendirikan HMI, dan yang menentang biarlah terus menentang, toh tanpa mereka organisasi ini bisa berdiri dan berjalan"
Pada awal pembentukkannya HMI bertujuan diantaranya antara lain:
Mempertahankan dan mempertinggi derajat rakyat Indonesia.
Menegakkan dan mengembangkan ajaran agama Islam. Sementara tokoh-tokoh pemula / pendiri HMI antara lain :
# Lafran Pane (Yogya),
# Karnoto Zarkasyi (Ambarawa),
# Dahlan Husein (Palembang),
# Maisaroh Hilal (Singapura),
# Suwali, Yusdi Ghozali (Semarang),
# Mansyur, Siti Zainah (Palembang),
# M. Anwar (Malang),
# Hasan Basri, Marwan, Zulkarnaen, Tayeb Razak, Toha Mashudi (Malang),
# Baidron Hadi (Yogyakarta).
Faktor Pendukung Berdirinya HMI
Posisi dan arti kota Yogyakarta
Yogyakarta sebagai Ibukota NKRI dan Kota Perjuangan
Pusat Gerakan Islam
Kota Universitas/ Kota Pelajar
Pusat Kebudayaan
Terletak di Central of Java
Kebutuhan Penghayatan dan Keagamaan Mahasiswa
Adanya tuntutan perang kemerdekaan bangsa Indonesia
Adanya STI (Sekolah Tinggi Islam), BPT (Balai Perguruan Tinggi)
Gajah Mada, STT (Sekolah Tinggi Teknik).
Adanya dukungan Presiden STI Prof. Abdul Kahar Muzakir
Ummat Islam Indonesia mayoritas
Faktor Penghambat Berdirinya HMI
Munculnya reaksi-reaksi dari :
Perserikatan Mahasiswa Yogyakarta (PMY)
Gerakan Pemuda Islam (GPII)
Pelajar Islam Indonesia (PII)
Fase-Fase Perkembangan HMI dalam Perjuangan Bangsa Indonesia
Fase Konsolidasi Spiritual (1946-1947)
Sudah diterangkan diatas
Fase Pengokohan (5 Februari 1947 - 30 November 1947)
Selama lebih kurang 9 (sembilan) bulan, reaksi-reaksi terhadap kelahiran HMI barulah berakhir. Masa sembilan bulan itu dipergunakan untuk menjawab berbagai reaksi dan tantangan yang datang silih berganti, yang kesemuanya itu semakin mengokohkan eksistensi HMI sehingga dapat berdiri tegak dan kokoh.
Fase Perjuangan Bersenjata (1947 - 1949)
Seiring dengan tujuan HMI yang digariskan sejak awal berdirinya, maka konsekuensinya dalam masa perang kemerdekaan, HMI terjun kegelanggang pertempuran melawan agresi yang dilakukan oleh Belanda, membantu Pemerintah, baik langsung memegang senjata bedil dan bambu runcing, sebagai staff, penerangan, penghubung. Untuk menghadapi pemberontakkan PKI di Madiun 18 September 1948, Ketua PPMI/ Wakil Ketua PB HMI Ahmad Tirtosudiro membentuk Corps Mahasiswa (CM), dengan Komandan Hartono dan wakil Komandan Ahmad Tirtosudiro, ikut membantu Pemerintah menumpas pemberontakkan PKI di Madiun, dengan mengerahkan anggota CM ke gunung-gunung, memperkuat aparat pemerintah. Sejak itulah dendam kesumat PKI terhadap HMI tertanam. Dendam disertai benci itu nampak sangat menonjol pada tahun '64-'65, disaat-saat menjelang meletusnya G30S/PKI.
Fase Pertumbuhan dan Perkembangan HMI (1950-1963)
Selama para kader HMI banyak yang terjun ke gelanggang pertempuran melawan pihak-pihak agresor, selama itu pula pembinaan organisasi terabaikan. Namun hal itu dilakukan secara sadar, karena itu semua untuk merealisir tujuan dari HMI sendiri, serta dwi tugasnya yakni tugas Agama dan tugas Bangsa. Maka dengan adanya penyerahan kedaulatan Rakyat tanggal 27 Desember 1949, mahasiswa yang berniat untuk melanjutkan kuliahnya bermunculan di Yogyakarta. Sejak tahun 1950 dilaksankanlah tugas-tugas konsolidasi internal organisasi. Disadari bahwa konsolidasi organisasi adalah masalah besar sepanjang masa. Bulan Juli 1951 PB HMI dipindahkan dari Yogyakarta ke Jakarta.
Fase Tantangan (1964 - 1965)
Dendam sejarah PKI kepada HMI merupakan sebuah tantangan tersendiri bagi HMI. Setelah agitasi-agitasinya berhasil membubarkan Masyumi dan GPII, PKI menganggap HMI adalah kekuatan ketiga ummat Islam. Begitu bersemangatnya PKI dan simpatisannya dalam membubarkan HMI, terlihat dalam segala aksi-aksinya, Mulai dari hasutan, fitnah, propaganda hingga aksi-aksi riil berupa penculikan, dsb.
Usaha-usaha yang gigih dari kaum komunis dalam membubarkan HMI ternyata tidak menjadi kenyataan, dan sejarahpun telah membeberkan dengan jelas siapa yang kontra revolusi, PKI dengan puncak aksi pada tanggal 30 September 1965 telah membuatnya sebagai salah satu organisasi terlarang.
Fase Kebangkitan HMI sebagai Pelopor Orde Baru (1966 - 1968)
HMI sebagai sumber insani bangsa turut mempelopori tegaknya Orde Baru untuk menghapuskan orde lama yang sarat dengan ketotaliterannya. Usaha-usaha itu tampak antara lain HMI melalui Wakil Ketua PB Mari'ie Muhammad memprakasai Kesatuan Aksi Mahasiswa (KAMI) 25 Oktober 1965 yang bertugas antara lain : 1) Mengamankan Pancasila. 2) Memperkuat bantuan kepada ABRI dalam penumpasan Gestapu/ PKI sampai ke akar-akarnya. Masa aksi KAMI yang pertama berupa Rapat Umum dilaksanakan tanggal 3 Nopember 1965 di halaman Fakultas Kedokteran UI Salemba Jakarta, dimana barisan HMI menunjukan superioitasnya dengan massanya yang terbesar. Puncak aksi KAMI terjadi pada tanggal 10 Januari 1966 yang mengumandangkan tuntutan rakyat dalam bentuk Tritura yang terkenal itu. Tuntutan tersebut ternyata mendapat perlakuan yang represif dari aparat keamanan sehingga tidak sedikit dari pihak mahasiswa menjadi korban. Diantaranya antara lain : Arif rahman Hakim, Zubaidah di Jakarta, Aris Munandar, Margono yang gugur di Yogyakarta, Hasannudin di Banjarmasin, Muhammad Syarif al-Kadri di Makasar, kesemuanya merupakan pahlawan-pahlawan ampera yang berjuang tanpa pamrih dan semata-mata demi kemaslahatan ummat serta keselamatan bangsa serta negara. Akhirnya puncak tututan tersebut berbuah hasil yang diharap-harapkan dengan keluarnya Supersemar sebagai tonggak sejarah berdirinya Orde Baru.
Fase Pembangunan (1969 - 1970)
Setelah Orde Baru mantap, Pancasila dilaksanakan secara murni serta konsekuen (meski hal ini perlu kajian lagi secara mendalam), maka sejak tanggal 1 April 1969 dimulailah Rencana Pembangunan Lima Tahun (Repelita). HMI pun sesuai dengan 5 aspek pemikirannya turut pula memberikan sumbangan serta partisipasinya dalam era awal pembagunan. Bentuk-bentuk partisipasi HMI baik anggotanya maupun yang telah menjadi alumni meliputi diantaranya : 1) partisipasi dalam pembentukan suasana, situasi dan iklim yang memungkinkan dilaksanakannya pembangunan, 2) partisipasi dalam pemberian konsep-konsep dalam berbagai aspek pemikiran 3) partisipasi dalam bentuk pelaksana langsung dari pembangunan.
Fase Pergolakan dan Pembaharuan Pemikiran (1970 - sekarang )
Suatu ciri khas yang dibina oleh HMI, diantaranya adalah kebebasan berpikir dikalangan anggotanya, karena pada hakikatnya timbulnya pembaharuan karena adanya pemikiran yang bersifat dinamis dari masing-masing individu. Disebutkan bahwa fase pergolakan pemikiran ini muncul pada tahun 1970, tetapi geja-gejalanya telah nampak pada tahun 1968. Namun klimaksnya memang terjadi pada tahun 1970 di mana secara relatif masalah- masalah intern organisasi yang rutin telah terselesaikan. Sementara di sisi lain, persoalan ekstern muncul menghadang dengan segudang problema.
Billahittaufiq wal hidayah,
Wassalamualaikum war. wab.
Rabu, 28 November 2007
siapa liberal !!!!
kata yang di tujukan kepada kawan-kawan HMI di mana saja, kata-kata yang sangat menusuk...
merdeka bukan berarti liberal !
dalami HMI.. maka dari setiap kalian akan tau.. siapa HMI itu sebenarnya !!
paradigma merdeka
berfikir merdeka bukan berarti merebut kemerdekaan orang lain !!!